CAHAYA DI UJUNG SAJADAH
Penulis: Isnawati, S.Ag |
09 Aug 2026 |
Pengunjung: 1445
Matahari siang mulai terasa terik ketika bel istirahat kedua berbunyi di SMP Harapan Bangsa . Suasana sekolah yang sebelumnya dipenuhi suara guru yang mengajar kini berubah menjadi ramai. Para siswa keluar dari kelas dengan berbagai aktivitas. Ada yang menuju kantin, ada yang duduk di bawah pohon sambil bercanda, dan ada pula yang langsung mengeluarkan handphone dari tas mereka.
Di kelas VIII D, beberapa siswa tampak berkumpul di bangku paling belakang. Raka dikenal sebagai siswa yang cukup pintar di kelas VIII D. Namun akhir-akhir ini, ia dan beberapa temannya mulai terlalu sering menghabiskan waktu dengan bermain game online. Setiap jam istirahat kedua tiba, mereka segera berkumpul di bangku belakang kelas sambil menatap layar handphone masing-masing.
Mereka begitu menikmati permainan itu hingga sering lupa waktu. Bahkan ketika suara azan dhuhur mulai berkumandang dari mushola sekolah, perhatian mereka masih tertuju pada permainan yang sedang berlangsung. Di SMP Harapan Bangsa, salat zuhur berjamaah memang menjadi salah satu pembiasaan yang selalu dijaga oleh sekolah. Guru-guru berharap kegiatan itu dapat membentuk karakter disiplin dan religius pada diri siswa.
Namun kenyataannya tidak semua siswa langsung menuju mushola ketika azan terdengar. Masih ada beberapa anak yang harus diingatkan berkali-kali. Ada yang masih duduk di kantin, ada yang bercanda di halaman sekolah, dan ada pula yang tetap sibuk bermain game. Keadaan seperti itu membuat guru-guru sering harus berkeliling dari kelas ke kelas untuk mengajak siswa salat berjamaah. Bahkan terkadang guru harus memanggil siswa satu per satu agar segera berwudhu.
Bu Naila, salah satu guru yang paling aktif mengingatkan siswa. Hampir setiap hari beliau berjalan menyusuri lorong sekolah sambil mengajak siswa menuju mushola.Beliau merasa prihatin melihat banyak siswa yang mulai lebih tertarik pada dunia permainan dibanding memenuhi panggilan adzan. Raka dan teman-temannya termasuk siswa yang paling sering terlambat datang ke mushola. Mereka biasanya baru beranjak setelah guru datang mengingatkan.
Ketika sampai di mushola, shaf depan sering kali sudah penuh sehingga mereka berada di bagian paling belakang. Awalnya Raka tidak pernah merasa bersalah dengan kebiasaannya itu. Baginya bermain game terasa jauh lebih menyenangkan. Ia merasa salat masih bisa dilakukan nanti setelah permainan selesai.
Namun suatu hari Pak Arif, wali kelas VIII D, memberikan nasihat yang perlahan mengubah cara berpikir Raka. Pak Arif menjelaskan bahwa salat bukan sekadar kewajiban sekolah, melainkan kebutuhan hati setiap manusia. Menurut beliau, seseorang yang terlalu sibuk mengejar kesenangan dunia hingga melupakan salat akan kehilangan ketenangan dalam hidupnya. Nasihat itu terus teringat dalam pikiran Raka.
Malam harinya di rumah, Raka memperhatikan ayahnya yang tetap segera mengambil wudhu meskipun baru pulang kerja dalam keadaan lelah. Dari situ Raka mulai berpikir bahwa selama ini dirinya terlalu sering menunda kewajiban hanya demi permainan yang sifatnya sementara.
Hari-hari berikutnya, perubahan kecil mulai muncul dalam diri Raka. Ketika adzan zuhur berkumandang, ia mencoba menghentikan permainan lebih cepat. Walaupun masih terasa berat, ia mulai belajar mendahulukan salat. Perubahan itu ternyata membuat teman-temannya ikut berpikir. Danu dan Fikri yang biasanya selalu mengajak bermain game mulai ikut berjalan bersama menuju mushola. Mereka merasa malu jika harus terus-menerus diingatkan guru.
Sedikit demi sedikit suasana sekolah mulai berubah. Semakin banyak siswa yang langsung menuju mushola ketika azan berkumandang. Guru-guru tidak lagi harus terlalu sering mengopyak-opyak siswa seperti sebelumnya. Mushola sekolah yang dulu kadang terasa sepi kini mulai dipenuhi siswa dengan kesadaran sendiri.
Bu Naila merasa sangat bersyukur melihat perubahan itu. Menurut beliau, perubahan karakter memang tidak bisa terjadi dalam satu hari. Anak-anak perlu terus dibimbing dan diberi contoh agar memahami pentingnya salat.
Raka sendiri mulai merasakan perbedaan dalam hidupnya. Ia merasa lebih tenang setelah membiasakan diri salat tepat waktu. Ia juga menjadi lebih disiplin dalam mengatur waktu bermain dan belajar. Kini ia menyadari bahwa game hanya memberikan kesenangan sementara, sedangkan salat memberikan ketenangan hati yang jauh lebih berharga.
Dari mushola kecil di sekolah itu, perlahan tumbuh cahaya dalam hati para siswa. Cahaya yang mengajarkan mereka untuk lebih menghargai panggilan adzan dan mendahulukan kewajiban sebelum kesenangan. Dan cahaya di ujung sajadah itu akhirnya benar-benar menerangi langkah mereka menuju pribadi yang lebih baik.
Jawablah pertanyaan dibawah ini dibuku literasimu!
1.Apa yang membuat Raka mulai menyadari pentingnya sholat dalam kehidupannya? Jelaskan peristiwa yang paling berpengaruh dalam cerita tersebut.
2.Bagaimana perubahan sikap dan kebiasaan Raka setelah mulai mendekatkan diri kepada Allah?
3.Menurut pendapatmu, apa makna dari judul “Cahaya di Ujung Sajadah”?
4.Jika kamu berada di posisi Raka, hal apa yang ingin kamu perbaiki dalam ibadahmu? Jelaskan alasanmu.
5.Setelah membaca cerita ini, pelajaran apa yang paling berkesan bagimu dan kebiasaan baik apa yang ingin kamu mulai dalam kehidupan sehari-hari?
← Kembali ke Daftar Artikel
Komentar
7b jaya jaya kriuk sesss
Dancok grub Ra mutu
Cerita nya sangat bagus
Baguss buu
Baguss
sikel ku pincang
sikel ku pincang
Raka ingin bertobat karena dia ingin menjadi orang baik
Masyallah
Cerita nya bagus banget
where this JAUDA?
mas hanan aku pada mu
akuu ga mutu
Aku dulu yang pesan
Aku akan membeli website ini seharga 1 juta dollar
Aku suka dengan cerita di atas
mas Hanan mas hanan
Cerita nya bagus dan menginspirasi
literasi kali ini bagus bgt??
Cerita nya serem
Aku gendenggggg
Isi cerita sangat bagus dan bermanfaat bagi siswa siswi SMPN 1 Karangjati
Isi cerita sangat bagus dan bermanfaat bagi siswa siswi SMPN 1 Karangjati
Sholat adalah tiang agama
Isi cerita sangat bagus dan menginspirasi