Mentari pagi baru saja terbit, tetapi dapur kecil di sudut rumah itu sudah diselimuti aroma gurih. Di atas kompor minyak yang riuh, ibu telaten menggoreng keripik usus hingga berwarna kuning keemasan. Di sampingnya, Ade, bocah kelas 8 SMP sibuk menata bungkusan-bungkusan plastik ke dalam karung kain di atas sepeda tuanya. Roda kehidupan keluarga kecil ini ditopang dari keripik usus. Ade dan ibunya membagi tugas: ibu yang meracik bumbu dan menggoreng, sementara Ade yang mengayuh sepeda menyetorkan keripik ke angkringan dan toko kelontong di sekitar rumahnya.
Padahal, secara rasa, keripik usus buatan ibu tiada tandingannya, renyah, gurih, dan tidak amis sama sekali. Sayang, penjualannya sering kali tersendat. Seminggu sekali saat Ade datang untuk menyetor, titipan minggu lalu kerap masih tersisa banyak. Setiap kali memungut kembali bungkus-bungkus yang tak terjual, ada sedikit rasa kebat di dadanya. Namun, Ade selalu menyunggingkan senyum di depan ibunya. Ia tidak ingin menambah beban wanita yang telah bekerja keras itu.
Hari demi hari berlalu, beban hidup makin terasa mencekik. Kebutuhan dapur terus naik, belum lagi biaya sekolah Ade dan adiknya, Rara, yang kini duduk di kelas 4 SD.
"Bu, bagaimana kalau kita cari cara supaya keripik kita bisa dijual lebih jauh? Biar laku banyak," usul Ade suatu malam saat mereka membungkus sisa dagangan.
Ibu menghentikan jemarinya, menatap Ade lembut lalu menghela napas. "Pemasaran ya, Le? Ibu juga ingin begitu. Tapi ibu tak paham jalan jalannya, kita tidak punya kenalan atau modal untuk promosi."
Ade terdiam sebentar, berpikir keras. Hingga sebuah gagasan sederhana melintas di kepalanya. "Bagaimana kalau Ade bawa ke sekolah saja, Bu? Kita jual ke teman-teman."
Ibu menatap anak sulungnya dengan cemas. "Apa kamu tidak malu, Le? Nanti diejek teman-temanmu."
Ade tersenyum mantap. "Buat apa malu, Bu? Mencari nafkah yang halal itu tidak perlu ada malunya."
Keesokan harinya, Ade membawa satu kantong penuh keripik usus ke sekolah. Langkah awalnya berbuah manis. Teman-teman sekelasnya yang mencoba ternyata langsung ketagihan. Hari demi hari, laba kecil dari penjualan di sekolah berhasil menambah lembaran rupiah untuk dapur mereka.
Namun, ujian belum usai. Suatu pagi saat siap berangkat, Rara menangis di depan pintu. Sepatu hitamnya jebol parah, sol bawahnya terlepas sama sekali dan tak bisa dipakai lagi. Melihat adiknya sesenggukan, Ade melonggarkan tali sepatunya sendiri. "Pakai sepatu Mas Ade dulu ya, Ra. Walau agak kebesaran, yang penting Rara tidak telanjang kaki ke sekolah. Nanti kalau ada rezeki, Mas belikan yang baru."
Rara menghapus air matanya lalu mengangguk pelan. Pagi itu, Ade mengalah. Ia berangkat ke SMP mengayuh sepeda hanya dengan mengenakan sandal jepit lusuh. Tentu saja keberadaan sandal jepit itu memancing perhatian. Di gerbang sekolah, teman-teman dan beberapa guru menyapa heran. Ade tidak bersilat lidah atau menutupi keadaannya. Dengan jujur dan sopan, ia menjawab bahwa sepatunya sedang dipinjam oleh sang adik.
Siang harinya, kelas Ade masuk pada pelajaran Bahasa Indonesia. Ibu Maya, guru mereka, mengajar materi pembuatan iklan dan slogan. Beliau menjelaskan bagaimana sebuah kalimat menarik dan visual yang tepat mampu membuat sebuah produk dikenal luas.
Saat jam istirahat dimulai, Doni, teman sebangku Ade, menepuk pundaknya. "De, materi tadi pas banget buat keripik usus bisnismu! Kalau buat iklan yang keren, terus dipajang, pasti yang beli makin melimpah."
Ade tertawa kecil, ada nada pasrah di suaranya. "Iklannya mau di-share ke mana, Don? Ponsel saja aku tak punya. Bikin iklan digital butuh HP, mau publikasi ke sosmed juga butuh internet dan HP."
Tanpa mereka sadari, Ibu Maya berdiri tak jauh di belakang mereka, mendengarkan percakapan itu. Hati sang guru tersentuh melihat perjuangan muridnya yang jujur, berbakti, dan pantang menyerah tersebut.
Keesokan harinya, seusai pelajaran berakhir, Ibu Maya memanggil Ade ke meja guru. Beliau mengeluarkan sebuah kotak ponsel lama.
"Ade, ini HP Ibu yang lama. Sudah tidak terpakai lagi di rumah," ujar Ibu Maya hangat. "Kondisinya memang bukan HP mahal atau bagus, tapi masih sangat layak untuk mengambil foto, bikin desain iklan sederhana, dan membuka media sosial. Pakailah untuk membantu usahamu."
Mata Ade berkaca-kaca. Dengan tangan gemetar, ia menerima pemberian itu sambil mengucapkan terima kasih berulang kali.
Sejak hari itu, dunia baru terbuka bagi Ade. Dibantu Doni yang paham sedikit tentang aplikasi desain, Ade belajar mengambil foto keripik usus ibunya agar terlihat menggiurkan. Mereka menyusun slogan sederhana namun membekas, lalu membuatkan akun media sosial khusus untuk usaha keripiknya.
Tiap sore seusai membantu ibu, Ade tekun mengunggah konten, mulai dari proses penggorengan yang bersih, renyahnya suara keripik saat digigit, hingga testimoni teman-temannya.
Keajaiban tidak datang serta-merta, namun ketekunan tak pernah mengkhianati hasil. Satu per satu pesanan mulai berdatangan dari luar wilayah mereka. Dari yang awalnya hanya puluhan bungkus seminggu, permintaan mendadak melonjak tajam hingga ratusan bungkus per hari.
Dapur kecil ibu kini tak pernah sepi. Sepatu baru untuk Rara sudah dibeli, dan yang terpenting, senyum di wajah ibunya kini tak lagi menyembunyikan rasa cemas, melainkan rasa syukur yang mendalam atas keteguhan hati putra sulungnya.
Setelah membaca cerita di atas, jawab pertanyaan di bawah ini!
1.Siapa saja anggota keluarga Ade dan bagaimana pembagian tugas antara Ade dan Ibunya dalam menjalankan usaha keripik usus pada awal cerita?
2.Pengorbanan apa yang dilakukan Ade ketika sepatu adiknya (Rara) rusak, dan bagaimana sikap Ade saat ditanya oleh teman serta gurunya di sekolah?
3.Apa alasan Ibu Maya memberikan ponsel lamanya kepada Ade?
4.Bagaimana langkah-langkah yang dilakukan Ade dan Doni dalam memanfaatkan ponsel tersebut untuk mengembangkan bisnis keripik usus?
Apa pesan moral atau amanat utama yang dapat dipetik dari cerita "ANTARA ASAP DAN HARAPAN"?
Komentar
isinya sangat bagus, cerita menarik, dan dapat melatih ketelitian siswa. program literasi sangat membantu smpn 1 karangjati
Cerita yang sangat bagus dan seru untuk dibaca
awesome
So inspiring !
bagus,keren, menginspirasi
ceritanya menyadarkan kita untuk terus membantu anggota keluarga kita, dan menjadi anak yang ringan tangan,
Good and very inspiring
mantap
Bagus literasi nya
Mantap litarasinya
ceritanya bagus menceritakan tentang kerja keras, kesabaran dan berbakti kepada orang tua \r\n? :)
ceritanya menyadarkan kita untuk terus membantu anggota keluarga kita, dan menjadi anak yang ringan tangan,
Good and very inspiring
Keren isi ceritanya, sangat menginspirasi sekali, dan tidak patah semangat dalam menjalani kehidupan ???