NAMAKU AHMED

Penulis: Yanik Setiyowati, S. Pd | 12 Nov 2025 | Pengunjung: 1849
Cover
Namaku Ahmed. Aku adalah siswa kelas 9 di salah satu sekolah terbaik di kota ini. Secara fisik, kehadiranku di sekolah nyaris sempurna. Jam 6 pagi, aku sudah rapi dengan seragam, mencium tangan Ibu, dan berangkat. Banyak yang menyebutku anak yang rajin karena absenku selalu aman; aku hampir tak pernah bolos.
Namun, kedisiplinan fisik itu hanyalah sebuah topeng, sebuah sandiwara pagi hari untuk menyenangkan hati orang-orang yang paling kucintai. Sayangnya, kehadiran fisik tidak lantas membuatku menmenjadiiasaanmenmenjamenjadienjadi menmenjadi siswa yang ideal. Jauh di lubuk hati, aku adalah seorang pemberontak yang kelelahan.

Kursi kayu yang keras di kelasku menjadi saksi bisu kebiasaan burukku yang sulit sekali disingkirkan yaitu tidur. Bukan karena kantuk. Seringkali, saat guru sedang menerangkan teori yang rumit, atau saat papan tulis dipenuhi rumus yang berputar-putar tak jelas maknanya bagiku, mataku akan perlahan terpejam. Ini adalah refleks untuk mematikan kebosanan, untuk mencari pelarian singkat dari kenyataan yang menuntut fokus.
Bosan adalah musuh terbesarku. Saat kebosanan itu mencapai puncaknya, aku punya cara lain untuk melarikan diri, yang lebih berisiko. Diam-diam, dengan langkah pelan dan kepala tertunduk, aku akan kabur dari kelas. Tujuanku? Kadang kantin, sekadar melihat hiruk pikuk di sana, atau yang lebih sering, ruang UKS. Aku akan berbaring di sana dengan alasan sakit kepala atau perut mulas, menikmati ketenangan yang tidak kutemukan di kelas. Aku tahu, ini membuatku semakin sulit fokus.
Label yang diberikan oleh para guru terasa seperti cap panas di kening: "Ahmed, si pemalas."
Label itu menyakitkan, menusuk pertahananku, terutama karena aku tahu itu sebagian besar benar. Aku memang sering tidak mengerjakan PR. Bukan lupa, tapi pura-pura lupa. Aku akan menyembunyikan buku tugas di dasar tas dan berpura-pura kebingungan saat ditanya. Aku tahu, ini adalah kebohongan kecil yang menumpuk menjadi tembok besar antara aku dan potensiku.

Alasan terbesar aku mempertahankan topeng ini adalah keluargaku. Aku adalah satu-satunya anak laki-laki dari empat bersaudara. Beban dan harapan orang tua, terutama Ibu, seolah diletakkan di pundakku yang masih remaja.
Ibuku, ah, Ibu. Beliau adalah sumber kasih sayang yang tak pernah kering. Setiap pagi, saat aku pamit, matanya memancarkan kebanggaan yang murni. Beliau selalu memastikan bekalku lengkap dan uang sakuku cukup—seolah bekal itu adalah jaminan bahwa aku akan baik-baik saja di luar sana. Kepercayaan dan cintanya ini, paradoksnya, adalah hal yang paling membuatku merasa bersalah.
Aku sadar betul kebiasaan-kebiasaan ini merugikan masa depanku, merusak kepercayaan orang tuaku, dan menjauhkan diriku dari potensi terbaikku. Namun, entah mengapa, rasanya seperti ada tenaga tak terlihat yang menahan kakiku untuk melangkah maju. Sulit sekali untuk berubah.

Aku sudah melewati semua prosedur "perbaikan" di sekolah. Aku sering dipanggil Guru BP. Aku sudah "disidang" oleh wali kelas. Semua guru sudah memberiku nasehat, dari yang lembut hingga yang menggelegar.
?Mereka bicara tentang masa depan, tentang tanggung jawab, tentang peluang yang akan hilang. Kata-kata mereka masuk ke telingaku, tetapi entah mengapa, hatiku ini terasa begitu keras, seolah menolak semua bimbingan dan kebaikan mereka. Ada dinding tebal di dalam diriku yang menghalangi niat baik itu untuk menyentuh inti perubahanku.
?Malam hari, setelah semua drama di sekolah selesai, saat aku sendirian di kamar, pertanyaan-pertanyaan itu datang menusuk.
?“Akan jadi apa diriku nanti? Mengapa aku menyia-nyiakan kesempatan ini, sementara orang tuaku, terutama Ibu, begitu berharap banyak padaku? Mereka sungguh percaya padaku. Kepercayaan itu seberat emas, dan aku justru mengkhianatinya.”

Aku berada di persimpangan jalan, melihat dua versi diriku: Ahmed yang malas, pengecut, dan lari dari tanggung jawab; dan Ahmed yang potensial, yang cerdas, yang bisa membanggakan orang tua.
Kapan batas waktu itu akan tiba? Kapan aku harus berubah?
Aku juga sering bergumam liri
Jawablah pertanyaan berikut dengan tepat!
1. Mengapa Ahmed sering merasa bosan di kelas, padahal ia hadir setiap hari? Menurutmu, apa yang bisa dilakukan agar pelajaran terasa lebih menarik?
2. Ahmed sering berpura-pura lupa mengerjakan PR. Apa dampak dari kebiasaan ini terhadap masa depannya dan kepercayaan orang tua?
3. Jika kamu menjadi Ahmed, apa langkah pertama yang akan kamu ambil untuk berubah menjadi siswa yang lebih baik? Jelaskan alasannya.
4. Bagaimana perasaan Ahmed terhadap ibunya memengaruhi sikapnya di sekolah? Apa yang bisa kamu pelajari dari hubungan mereka?
5. Cerpen ini menunjukkan dua sisi Ahmed: yang malas dan yang punya potensi. Menurutmu, apa yang bisa membantu seseorang memilih jalan yang lebih baik dalam hidupnya?

Komentar

Fernando 2025-11-15 10:50:56

1. Karena materi pelajaran tidak sesuai dengan minat 2. Dampak dari kebiasaan ini sangat negatif 3.mengakui masalah dan berbicara dengan jujur kepada orang tua 4.perasaan Ahmad terhadap ibunya merasa bersalah 5. Kesadaran diri, disiplin dan kerja keras

Ff 2025-11-13 00:28:55

Bagaimana perasaan Ahmed terhadap ibunya memengaruhi sikapnya di sekolah? Apa yang bisa kamu pelajaran

alok 2025-11-13 00:26:12

KkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeerrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrreeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnkkkkKkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeerrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrreeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnkkkkKkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeerrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrreeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnkkkkKkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeerrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrreeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnkkkkKkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeerrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrreeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnkkkkKkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeerrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrreeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnkkkk

taman sekarjati 2025-11-13 00:25:40

typo dikit

Wleee 2025-11-13 00:25:35

Primera sangre

pristel 2025-11-13 00:24:06

kkkkkkuuuuuuuueeeeeeeerrrrrrrrrrrrrrrr bbbbbbbbbaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnnngggggggggggggggggeeeeeeetttttttttt

gong sanggar 2025-11-13 00:23:21

paragraf dua kenapa bu?, tolong diperbaiki

ARKA 2025-11-13 00:22:52

Keren

ARKA 2025-11-13 00:22:36

Meren

rachmatya putri 2025-11-13 00:22:15

bagus banget

one day 2025-11-13 00:22:11

keren

Ucok pristel 2025-11-13 00:20:54

Kkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeerrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrreeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn

Yaasin 2025-11-13 00:20:51

Abdul dimanaa banggg. ABDULLL!

iputs 2025-11-13 00:17:34

keren

si ahmed 2025-11-13 00:16:09

dasar ahmed

jacob syur khol 2025-11-13 00:13:36

menjadiaasanamendmenjadiasaajadienjadi

jacob syur khol 2025-11-13 00:13:30

menjadiaasanamendmenjadiasaajadienjadi

n 2025-11-13 00:07:59

kerenn

aylaaa 2025-11-13 00:06:19

kerenn\r\n

← Kembali ke Daftar Artikel