ANAKKU

Penulis: Siti Birotul Hidayah, S.Pd. | 19 Nov 2025 | Pengunjung: 1452
Cover
Di sebuah desa kecil di lereng perbukitan yang hijau, hiduplah seorang anak bernama Rafi bersama ibunya. Rumah mereka sederhana, berdinding papan dan beratap seng. Di halaman depan tumbuh bunga kertas berwarna merah muda yang selalu dirawat ibunya setiap pagi. Meskipun hidup mereka tidak bergelimang harta, rumah itu selalu terasa hangat oleh kasih sayang.
Rafi adalah siswa kelas 8 di SMP Negeri di desanya. Ia termasuk anak yang cerdas dan rajin, bahkan sering mendapat nilai tinggi dalam pelajaran. Namun, ada satu hal yang selalu mengusik hatinya—ibunya memiliki satu mata. Sejak kecil ia sudah tahu hal itu, tetapi semakin bertambah usia, rasa malu dalam dirinya juga ikut tumbuh.
Setiap kali ibunya menjemputnya di sekolah, Rafi merasa semua mata tertuju padanya. Beberapa teman berbisik, sebagian menatap dengan rasa ingin tahu.
“Eh, itu ibunya Rafi, ya? Matanya cuma satu, ya?” bisik seorang teman di belakangnya.
Wajah Rafi memanas. Ia menunduk dan berjalan cepat, pura-pura tidak mengenal perempuan yang melambai dari kejauhan itu.
Di rumah, ibunya tak pernah menyinggung soal itu. Ia tetap tersenyum, tetap menyiapkan makanan kesukaan Rafi; sayur bayam dan tempe goreng. Tapi Rafi sering menjawab dingin.
“Bu, lain kali jangan datang ke sekolah, ya. Aku malu dilihat teman-teman,” katanya suatu sore, suaranya terdengar seperti menahan kesal.
Ibunya menatap lembut dengan satu mata yang tersisa. “Ibu hanya ingin tahu kabarmu di sekolah, Nak. Ibu ingin dengar langsung dari gurumu, apakah kamu baik-baik saja.”
Rafi diam. Dalam hatinya ada rasa bersalah, tapi ia menolaknya dengan berpaling. “Aku sudah besar, Bu. Nggak usah datang lagi.”
Sejak hari itu, ibunya jarang datang ke sekolah. Ia hanya bisa menunggu di rumah, menyambut Rafi setiap pulang dengan senyum dan segelas air hangat. Namun, senyum itu jarang dibalas.
Waktu terus berjalan. Rafi lulus SMP dengan nilai baik dan diterima di sekolah favorit di kota. Ia pergi dengan semangat, meninggalkan rumah kecil dan ibu yang selalu mengantar dengan doa. Di kota, hidupnya berubah. Ia punya banyak teman, memakai pakaian rapi, dan merasa lebih percaya diri. Namun, dalam setiap pencapaian itu, ada sesuatu yang diam-diam ia sembunyikan—rasa malu dan penyesalan yang belum pernah ia ungkapkan.
Bertahun-tahun kemudian, ketika Rafi sudah bekerja dan hidup mapan di kota, datanglah kabar dari kampung. Ibunya sakit keras. Dengan langkah berat, ia pulang. Rumah itu masih sama—sederhana dan sepi.
Di atas meja kayu di ruang tengah, ada sebuah surat berdebu, ditulis dengan tulisan tangan yang bergetar. Rafi membuka perlahan, dan membaca dengan mata yang kini berkaca-kaca.
“Untuk Rafi, anak ibu yang paling Ibu sayang.
Maaf kalau selama ini Ibu membuatmu malu. Ibu tahu, mata Ibu yang satu itu membuatmu tidak nyaman. Tapi, tahukah kamu, Nak? Dulu, waktu kamu kecil, kamu pernah mengalami kecelakaan yang membuat salah satu matamu rusak. Dokter bilang kamu bisa buta kalau tidak segera mendapat donor mata.
Ibu tak punya apa-apa selain mata ini. Jadi Ibu berikan satu untukmu, agar kamu bisa melihat dunia yang indah ini.
Ibu bahagia setiap kali melihatmu tumbuh, meski hanya dengan satu mata. Maaf kalau Ibu tak sempat bilang lebih awal.
Sayang selalu,
Ibumu.”
Surat itu jatuh dari tangan Rafi. Dunia seolah berhenti berputar. Ia berlari ke kamar ibunya—dan di sana, ibunya terbaring tenang, dengan senyum lembut yang sama seperti dulu.
Air mata Rafi mengalir deras. Untuk pertama kalinya, ia menatap wajah ibunya tanpa rasa malu. Kini ia mengerti, mata yang ia gunakan untuk melihat dunia selama ini adalah hadiah terbesar dari seorang ibu yang pernah ia abaikan.

PERTANYAAN REFLEKSI
Bagaimana perasaan Rafi terhadap ibunya di awal cerita? Mengapa ia merasa seperti itu?
Setelah membaca cerita ini, menurutmu, apa alasan sebenarnya Ibu Rafi hanya memiliki satu mata?
Bagaimana perasaan Rafi setelah membaca surat dari ibunya? Jelaskan dengan kata-katamu sendiri.
Apa pelajaran penting yang bisa kamu ambil dari cerita ini tentang hubungan antara anak dan orang tua?
Jika kamu berada di posisi Rafi, apa yang akan kamu lakukan setelah mengetahui kebenaran tentang ibunya? Jelaskan alasanmu.

Komentar

Ikhwan Syuhada 2025-11-20 06:35:19

??????????? ?????? ????????? ?????????????\r\n \"Surga itu berada di bawah telapak kaki ibu

Nizam Adi nugroho 2025-11-20 03:49:40

Surga ada di telapak kaki ibu kita\r\n

rehan dwi firmansyah 8f 2025-11-20 00:33:13

sayangilah dan lidungilah ibu mu selagi masih ada di dunia

Rafi 2025-11-20 00:32:40

maaf ibu

Riski8C 2025-11-20 00:28:20

ibu adalah surga ku

n 2025-11-20 00:25:19

hargai selagi masih ada, dan jangan sakiti hatinya

X 2025-11-20 00:24:35

Menyentuh sekali

.. 2025-11-20 00:24:22

bagus banget

jessica 2025-11-20 00:19:14

ibu adalah surga ku

. 2025-11-20 00:18:27

Wahhhh banguss bangettt

Amin 2025-11-20 00:14:04

\"Ibu, cinta sejati yang tak pernah pudar.\"

procrit 2025-11-20 00:13:24

?

hh 2025-11-20 00:11:23

dei, ha\'a la, asik dan seru???

Manusia 2025-11-20 00:05:45

Keren dan menarik untuk di baca

Sri Isti U 2025-11-19 23:57:28

\r\nSeperti apapun fisik orang tua ( ibu & ayah), sebagai anak kita harus tetap & selalu menghormati dan menyayangi beliau

Marmi 2025-11-19 22:36:15

Ibu adalah harta yg terindah jaga dan bahagiakanlah beliau selagi ada.

← Kembali ke Daftar Artikel