Sepatu Baru untuk Raka

Penulis: Riska Yuliani, S.Pd | 26 Nov 2025 | Pengunjung: 1005
Cover
Raka berjalan perlahan di sepanjang trotoar menuju sekolah. Langkahnya terdengar berbeda bukan karena ia menyeret kaki, melainkan karena sol sepatunya yang mulai terlepas bagian depannya sehingga menimbulkan bunyi cekrek-cekrek setiap kali ia melangkah. Ia mencoba menekannya agar tidak terlalu terlihat, tapi hasilnya tetap sama.
Pagi itu matahari bersinar cerah, tetapi hati Raka terasa mendung. Semalam ia mendengar ibunya berbisik pada ayah tentang uang sekolah adiknya yang harus segera dibayar. Ia tahu benar kondisi keluarganya. Karena itu, ia tidak pernah meminta sepatu baru meski sepatu lamanya sudah mulai “minta pensiun”.
Saat tiba di gerbang, ia langsung disambut kerumunan teman yang sedang ramai membahas sepatu keluaran terbaru. Bentuknya keren, dan harganya tentu tidak murah. Ardi, teman sekelasnya, langsung melirik sepatu Raka. “Rak, kamu masih pakai itu? Nanti copot di lapangan, loh,” katanya sambil tertawa. Beberapa siswa ikut cekikikan. Raka tersenyum kaku. “Belum sempat beli,” jawabnya pendek. Bukan karena malu, tapi ia tidak mau bercerita panjang soal keluarganya.
Pelajaran berlangsung seperti biasa, meski pikiran Raka sesekali buyar. Ia mencoba menutupi bagian sepatunya dengan tas ketika duduk. Namun saat pelajaran olahraga, di mana semua siswa harus berlari mengelilingi lapangan, sepatunya benar-benar mulai rusak. Bagian sol depannya terangkat lebar akibat tersangkut akar pohon.
Ardi tertawa paling keras. “Rak! Sepatumu ikut lari duluan!” teriaknya.
Beberapa siswa lain ikut menertawakan, bahkan ada yang mengambil foto diam-diam. Wajah Raka memanas. Ia ingin lari keluar lapangan, tapi ia tetap berdiri sambil menunduk, berharap guru olahraga segera menyelesaikan sesi pemanasan.
Di tengah rasa malu itu, seorang suara lembut terdengar. “Rak, sini sebentar.”
Raka menoleh. Lani, teman sekelas yang dikenal tenang dan jarang bicara, berdiri sambil membawa segulung selotip hitam.
“Aku punya ini. Buat nahan sementara,” kata Lani. Ia berlutut dan memperbaiki sepatu Raka tanpa banyak bicara.
“Terima kasih…” suara Raka hampir tak terdengar.
“Gitu aja kok,” balas Lani sambil tersenyum kecil.
Meski perbaikannya jauh dari sempurna, Raka merasa hatinya sedikit lebih ringan. Tidak semua orang menertawakannya.
Keesokan harinya, kejadian di lapangan sudah menyebar. Ada yang tertawa, ada yang sekadar membahas. Tapi ada pula yang diam-diam merasa bersalah karena ikut menertawakan.
Di akhir jam sekolah, Pak Damar, guru olahraga, memanggil Raka ke ruang guru.
“Raka, duduk dulu,” ujar Pak Damar.
Di atas meja, ada sebuah kotak sepatu berwarna cokelat. Raka memandangnya, bingung.
“Ini bantuan dari program sosial sekolah,” kata Pak Damar. “Kami ingin memberikannya kepada siswa yang membutuhkan. Dan Bapak rasa kamu salah satunya.”
“Pak… saya”
“Tidak apa-apa, Nak. Menerima bantuan bukan berarti kamu lemah. Justru artinya kamu dihargai.”
Raka mengangguk pelan. Ia membuka kotaknya. Sepasang sepatu hitam baru, sederhana tapi kuat dan bagus. Jauh lebih bagus dari yang ia punya selama ini.
Sebelum pulang, ia bertemu Lani di tangga.
“Pak Damar yang kasih?” tanya Lani.
Raka mengangguk. “Iya. Tapi… yang pertama bantu itu kamu.”
Lani tersenyum. “Aku cuma nggak suka lihat orang direndahkan. Semua orang pernah dalam posisi sulit, kan?”
Raka mengangguk. Kata-kata itu terasa menenangkan.
Keesokan harinya, Raka datang ke sekolah dengan sepatu barunya. Ia berjalan lebih cepat, lebih ringan. Tapi bukan hanya karena sepatunya baru—ia merasa ada sesuatu yang berubah dalam dirinya.
Ketika melihat seorang siswa kelas 7 yang jatuh dan bukunya berserakan, Raka langsung menghampiri.
“Ayo, aku bantu,” katanya.
Siswa itu terkejut, lalu tersenyum malu. “Terima kasih, Kak.”
Di kejauhan, Ardi melihat pemandangan itu. Ia tidak berkata apa-apa. Tapi ia mengingat sesuatu: bagaimana ia dulu menertawakan Raka. Ada rasa menyesal yang muncul, meski ia belum berani mengucapkan apa pun.
Saat pulang, Lani berjalan di samping Raka.
“Kok kamu tadi nolong adik kelas?” tanya Lani.
Raka tersenyum kecil. “Aku cuma belajar dari seseorang… bahwa sedikit kebaikan bisa bikin seseorang merasa lebih kuat.”
Lani mengerjap. “Seseorang?”
“Ya. Seseorang yang suka bawa selotip di tas,” jawab Raka sambil tertawa pelan.
Lani ikut tertawa. Langkah mereka terasa hangat meski matahari sore mulai turun.
Dan sejak hari itu, sepatu baru Raka bukan hanya penanda bahwa ia dibantu tapi pengingat bahwa kebaikan kecil sering kali mengubah sesuatu yang besar.
Pertanyaan :
1. Bagian mana dari cerita yang menurutmu paling penting, dan mengapa bagian itu bisa mengubah cara tokoh-tokohnya bersikap?
2. Jika kamu berada di posisi Raka, apa yang akan kamu lakukan ketika diejek teman? Apakah kamu setuju dengan pilihan Raka? Jelaskan alasannya.
3. Menurutmu, mengapa kebaikan kecil seperti yang dilakukan Lani bisa memberi pengaruh besar dalam cerita? Apa contohnya dalam kehidupan sehari-hari?

Komentar

Hafidz 2025-11-27 00:30:39

Bwaaagwuuussss bwuuangwett

Raka 8e 2025-11-27 00:30:31

sepatu baru nih senggol dong

Raka 2025-11-27 00:29:46

Sangat menyedihkan

Fadil Wildan kawai 2025-11-27 00:27:27

nyaak kawaaaii

Tama nyaak bakul sate 2025-11-27 00:26:22

bagusssssssss banget nyaakk

. 2025-11-27 00:25:35

Ceritanya sangat menginspirasi dalam kehidupan sehari-hari,saya menjadi ingin Membantu orang lain juga karena kebaikan kecil dapat merubah jalan hidup seseorang.

Tama 2025-11-27 00:25:13

Keren\r\n

Gilang bagus 2025-11-27 00:24:48

Bagus banget haha

Diusung 2025-11-27 00:24:40

Karen

Tama kiyowo jinca 2025-11-27 00:24:33

kawai kawaida

Abraham aleksi pratama 2025-11-27 00:22:24

Sangat bagus

Tama imut 2025-11-27 00:21:38

Bagus banget

wildan fadil alfatah 2025-11-27 00:19:04

BanGusZS...bAngEtt

← Kembali ke Daftar Artikel