Pagi itu di kelas 9-B, suasana riuh mendadak sunyi saat Bagas melangkah masuk. Semua mata tertuju pada benda yang tersampir di pundaknya: sebuah tas sekolah berwarna biru pudar, kainnya menipis, berlubang di beberapa sisi, dan ritsletingnya hanya bisa menutup berkat bantuan peniti yang sudah berkarat.
Beberapa siswa saling berbisik. Ada yang tersenyum geli, ada pula yang terang-terangan menatap dengan tatapan meremehkan.
“Eh, lihat deh! Tas Bagas sudah jadi barang antik, ya? Mungkin besok harus ditaruh di museum,” celetuk salah satu teman, disambut tawa kecil yang cepat menjalar ke sudut-sudut kelas.
Bagas menunduk. Tangannya merapatkan tali tas itu ke dada, seolah ingin menyembunyikannya. Tanpa membalas sepatah kata pun, ia berjalan cepat menuju bangkunya di pojok kelas. Sepanjang pelajaran hari itu, Bagas lebih banyak diam. Pandangannya kosong, pikirannya entah melayang ke mana.
Sejak hari itu, Bagas tidak lagi terlihat di sekolah. Satu hari, dua hari, hingga tiga hari berlalu tanpa kabar. Bangku di pojok kelas tetap kosong. Ibu Ani, wali kelas mereka, mulai merasa gelisah.
“Anak-anak, Bagas sudah tiga hari tidak masuk tanpa keterangan. Sepulang sekolah nanti, Ibu minta perwakilan kelas ikut Ibu menjenguk Bagas. Kita harus tahu keadaannya,” ujar Ibu Ani dengan nada khawatir.
Perjalanan menuju rumah Bagas membawa mereka ke sebuah gang sempit di pinggiran kota. Jalanan tanah berbatu, rumah-rumah berdinding papan berdiri rapat. Mereka berhenti di depan sebuah gubuk kecil dengan atap seng berkarat. Di teras sempitnya, terlihat karung-karung plastik berisi tumpukan kaleng bekas.
Tiba-tiba Bagas keluar sambil membawa wadah berisi air hangat. Wajahnya terkejut melihat Ibu Ani dan teman-temannya.
“Ibu… teman-teman…” ucapnya lirih.
Di dalam rumah yang sederhana itu, terungkap kenyataan pahit yang selama ini dipikul Bagas sendirian. Ayahnya terbaring lemah karena sakit keras. Ibunya telah lama pergi tanpa kabar. Selama beberapa hari terakhir, Bagas harus merawat ayahnya sendiri. Demi biaya obat, sepulang sekolah ia mengumpulkan kaleng bekas dari jalanan.
“Maaf Bu… saya tidak masuk sekolah. Saya tidak punya siapa-siapa,” kata Bagas dengan suara bergetar.
Mendengar itu, hati Ibu Ani dan para siswa terasa diremas. Teman-teman yang dulu mengejeknya kini tertunduk. Rasa malu dan penyesalan memenuhi wajah mereka. Mereka baru menyadari bahwa tas usang yang ditertawakan itu adalah saksi perjuangan seorang anak yang bertahan di tengah keterbatasan.
Keesokan harinya, Bagas kembali ke sekolah dengan langkah ragu. Saat ia masuk ke kelas, suasana terasa berbeda. Tidak ada tawa mengejek. Tidak ada bisikan sinis.
Ketua kelas maju membawa sebuah kotak besar yang dibungkus rapi.
“Gas, maafkan kami ya. Ini dari kami semua, dan Ibu Ani juga ikut membantu,” ucapnya tulus.
Dengan tangan gemetar, Bagas membuka kotak itu. Sebuah tas sekolah baru dan perlengkapan alat tulis lengkap ada di dalamnya. Air mata Bagas tumpah seketika. Ia memeluk tas itu erat-erat.
“Terima kasih… terima kasih banyak,” isaknya.
Pagi itu, kelas 9-B belajar pelajaran berharga: bahwa penampilan bisa menipu, namun empati mampu membuka mata. Tas boleh usang, tetapi hati yang peduli akan selalu menjadi pelangi yang menguatkan.
sikap setelah membaca cerita “Pelangi di Balik Tas Usang”:
Jawablah pertanyaan di bawah ini !
1. Bagaimana perasaanmu jika berada di posisi Bagas ketika diejek teman-temannya?
Apa yang paling mungkin kamu rasakan dan mengapa?
2. Menurutmu, mengapa teman-teman Bagas mudah menertawakan tas usangnya tanpa mengetahui latar belakangnya?
Pernahkah kamu melakukan hal serupa, meski tanpa sadar?
3. Bagian cerita mana yang paling menyentuh hatimu?
Nilai apa yang kamu pelajari dari bagian tersebut?
4. Apa makna empati yang kamu pahami setelah membaca kisah ini?
Sebutkan satu tindakan nyata yang bisa kamu lakukan di sekolah untuk menunjukkan empati.
5. Jika kamu menjadi salah satu teman Bagas, apa yang akan kamu lakukan agar kejadian serupa tidak terulang di kelasmu?
Sikap apa yang perlu dijaga dalam pergaulan sehari-hari?
Komentar
7E Paris koyo ketek\r\n
ke3
Ceritanya bagus dan mudah untuk di pahami bagi pembaca\r\n\r\n\r\n
first\r\n