KURSI DI DEKAT JENDELA

Penulis: Suyatmi, S.Pd | 02 Feb 2026 | Pengunjung: 1267
Cover
Seorang ibu duduk sendiri di kursi kayu dekat jendela. Kursi itu telah menemaninya lebih lama daripada siapa pun. Cat cokelatnya mulai terkelupas, sandarannya sedikit miring, dan bila diduduki terlalu lama akan mengeluarkan bunyi lirih,seperti keluhan yang ditahan agar tak terdengar. Ibu itu tahu bunyi itu, hafal betul, tapi tak pernah memperbaikinya. Ia merasa kursi itu, seperti dirinya, berhak menua apa adanya.

Malam telah turun sepenuhnya. Rumah yang dulu ramai kini tenggelam dalam kesunyian yang nyaris padat, seolah bisa disentuh. Detak jam dinding berdentang pelan, memantul di dinding-dinding yang menyimpan terlalu banyak kenangan. Setiap detiknya terasa seperti langkah kaki yang berjalan menjauh, meninggalkan rumah tanpa menoleh.

Lampu ruang tamu menyala redup. Cahaya kuningnya jatuh lembut ke lantai, membentuk bayangan panjang kursi, bayangan tubuhnya, bayangan hidup yang terasa setengah. Cahaya itu mengingatkannya pada malam-malam lama, ketika ia duduk di kursi yang sama, tapi tidak sendirian.

Di luar, angin malam lewat sebentar. Ia menyelinap masuk melalui celah jendela, menggeser tirai tipis berwarna gading. Tirai itu bergoyang pelan, lalu diam kembali. Angin itu datang sebentar, lalu pergi lagi—seperti seseorang yang dulu sering pulang, kini hanya singgah dalam ingatan.
Sesunyi itulah hatinya.

Rumah itu sebenarnya tidak berubah. Lemari kayu di sudut ruang tamu masih berdiri tegak, menyimpan pakaian-pakaian lama yang jarang disentuh. Jam dinding di atas pintu masih berdetak dengan ritme yang sama sejak puluhan tahun lalu. Rak sepatu dekat pintu masih rapi, meski kini hanya satu pasang sandal yang terpakai setiap hari.

Foto keluarga masih tergantung di dinding. Dalam bingkai sederhana itu, seorang anak kecil tersenyum lebar, giginya belum lengkap, matanya berbinar. Anak itu memeluk pinggangnya erat, seolah dunia hanya selebar pelukan ibu.
Ibu itu menatap foto itu lama.

Dulu, anak itu begitu kecil.
Begitu sering memanggil namanya.
Begitu sering membuat rumah ini hidup.
Ia masih ingat pagi-pagi ketika anaknya terbangun lebih awal dari matahari, berlari keluar kamar dengan rambut masih acak-acakan.
“Bu, aku mau susu,” katanya sambil mengucek mata.
Ibu itu akan tersenyum, meski matanya masih berat, lalu pergi ke dapur. Suara panci, bunyi sendok, dan langkah kecil yang mengikutinya adalah musik pagi rumah itu.

Ia ingat sore-sore ketika anaknya pulang sekolah dengan seragam kusut dan wajah penuh cerita.
“Bu, tadi aku menang lomba lari,” katanya suatu hari.
“Bu, tadi aku dimarahi guru,” katanya di hari lain.
Apa pun ceritanya, ibu itu selalu mendengarkan. Kadang sambil memasak, kadang sambil melipat baju, tapi telinganya tak pernah pergi.
Ia ingat malam-malam ketika anaknya sulit tidur.
“Bu, temani aku,” katanya lirih.

Ibu itu akan duduk di tepi ranjang, mengusap rambut kecil itu, menyanyikan lagu yang suaranya tak pernah benar-benar bagus, tapi selalu berhasil membuat mata anaknya terpejam.
Ia ingat hari pertama anaknya masuk sekolah. Anak itu menangis di depan gerbang, memeluk kakinya erat-erat.
“Jangan ditinggal,” katanya.

Hari itu, ibu itu berdiri paling lama di depan sekolah, menunggu bel pulang, menunggu anak kecil itu kembali ke pelukannya.
Ia ingat hari ketika anaknya demam tinggi di tengah malam. Ia mengompres dahi kecil itu, berdoa dalam diam, menawar kepada Tuhan agar panas itu berpindah saja ke tubuhnya.

Ia ingat semuanya.
Terlalu banyak untuk dilupakan.
Kini, anak itu telah dewasa.
Terlalu dewasa untuk dipeluk sembarangan.
Terlalu dewasa untuk pulang tanpa rencana.

Ibu itu menghela napas pelan. Pandangannya jatuh pada ponsel yang tergeletak di meja kecil dekat kursinya. Benda kecil itu kini menjadi satu-satunya jendela ke dunia anaknya. Ia tak pernah benar-benar mengerti teknologi, tapi ia belajar demi satu hal: agar tetap bisa dekat.
Layarnya gelap.
Tidak ada pesan.
Tidak ada panggilan.
Dulu, ponsel itu sering ia lupakan. Ia terlalu sibuk mengurus rumah, menyiapkan bekal, menunggu di depan pintu. Sekarang, ponsel itu hampir selalu berada dalam jangkauannya—seperti janji yang belum ditepati.
Ia tidak marah.
Tidak pernah.

Ia tahu hidup anaknya kini penuh tuntutan. Pekerjaan, jadwal, tanggung jawab. Dunia anaknya jauh lebih besar dari rumah ini. Dan ia bangga.
Ia sering menceritakan anaknya pada tetangga.
“Anakku sekarang kerja di kota,” katanya.
“Jarang pulang, tapi alhamdulillah,” tambahnya cepat, seolah jarang pulang adalah tanda keberhasilan.
Kadang tetangga bertanya ringan,
“Bu, anaknya jarang pulang ya?”
Ia tersenyum.
“Iya, sibuk.”

Tak ada yang tahu, setiap pertanyaan itu seperti menelan duri. Menyakitkan, tapi harus ditelan agar tak terlihat perih. Ia tak ingin menjadi ibu yang diceritakan dengan nada kasihan.

Ia memilih diam bukan karena marah.
Ia memilih diam karena mencintai.
Ia menyimpan kecewa di antara doa-doanya.
Ia menyimpan perih di balik senyumnya.
Ia tak ingin menjadi beban.
Tak ingin anaknya merasa terikat oleh rasa bersalah.
Maka rindunya disimpan sendiri.
Dipeluk sendiri.
Ditidurkan sendiri setiap malam.
Malam semakin larut. Ibu itu berdiri perlahan, mematikan lampu satu per satu. Rumah tenggelam dalam gelap yang sudah sangat akrab. Ia berjalan menuju kamar, membuka lemari kecil, dan menarik satu laci.
Di dalamnya tersimpan benda-benda lama.
Sepatu bayi yang menguning.

Buku tulis kelas satu dengan tulisan miring.
Sebuah mainan mobil kecil yang rodanya sudah copot.
Ia menyentuhnya satu per satu, seolah menyentuh waktu.
Di ranjang, ia berbaring menatap langit-langit. Detak jam dinding terdengar lebih keras di kamar. Ia memejamkan mata dan berbisik, seperti setiap malam,
“Semoga kamu sehat dan selalu bahagia, Nak.”
Doa itu tak pernah berubah.

Pagi datang dengan cahaya pucat. Ibu itu bangun lebih awal, seperti kebiasaannya. Ia menyapu halaman kecil, menyiram tanaman, lalu duduk kembali di kursi dekat jendela. Kebiasaan lama yang tak pernah ia tinggalkan.
Menjelang siang, ponselnya bergetar.
Ia terkejut.
Tangannya sedikit gemetar saat mengangkatnya.
Nak:
Bu, aku pulang sore ini. Jangan masak yang ribet ya.
Ibu itu menatap layar lama.
Membaca ulang.
Memastikan matanya tak salah.

Air matanya jatuh tanpa suara.
Ia membalas dengan jari gemetar.
Iya, Nak. Hati-hati di jalan.
Sore itu, rumah terasa berbeda. Ia membersihkan ruang tamu dengan semangat yang lama hilang. Ia memasak masakan sederhana—masakan kesukaan anaknya sejak kecil. Tak ada yang mewah. Ia tahu, anaknya tak pernah meminta lebih.
Saat matahari hampir tenggelam, terdengar suara motor berhenti di depan rumah.
Pintu terbuka.
Anaknya berdiri di sana.
Sedikit lebih kurus.
Sedikit lebih lelah.
Tapi tetap anaknya.
“Bu,” katanya pelan.
Ibu itu berdiri kaku sesaat, lalu melangkah maju. Mereka berpelukan. Pelukan yang tak lama, tapi penuh. Tidak ada kata berlebihan. Tidak ada keluhan.
Hanya pulang.
Malam itu, kursi kayu dekat jendela tak lagi sunyi.
Dan hati seorang ibu,
akhirnya bernapas sedikit lebih lega.

Jawablah pertanyaan di bawah ini di buku literasimu !

1. Kapan terakhir kali kita benar-benar “pulang”, bukan hanya datang sebentar lalu pergi lagi—baik secara fisik maupun emosional—kepada orang yang selalu menunggu kita?
2. Dalam kesibukan mengejar masa depan, bagian mana dari hidup kita yang tanpa sadar kita tinggalkan, dan siapa yang diam-diam menanggung rindu itu?
3. Berapa banyak doa yang mungkin terus dipanjatkan untuk kita, bahkan saat kita merasa tidak sedang diperhatikan oleh siapa pun?
4. Jika suatu hari kursi yang selalu menunggu itu kosong, adakah hal yang akan kita sesali karena terlalu lama menunda waktu untuk hadir?
5. Apa arti “bahagia” bagi kita hari ini: keberhasilan yang jauh dari rumah, atau kemampuan untuk tetap memberi ruang bagi mereka yang mencintai tanpa syarat?

Komentar

padil 7A 2026-02-03 05:28:27

aku lapar bu

nando sekte gelap? 2026-02-03 00:39:56

bagus

kancil KRT 2026-02-03 00:39:08

hmm joss exstrajos maknyus

Afrizal 2026-02-03 00:36:24

Afrizal

Nizam Adi.NH 2026-02-03 00:34:48

Bagus

Nizam Adi.NH 2026-02-03 00:33:20

Sanggat menarik

nizam 8f 2026-02-03 00:27:03

6

cara ngisi nama gimana ya 2026-02-03 00:25:56

raihan dwi8f

Gilang 7c 2026-02-03 00:22:00

Sangat mudah

5 2026-02-03 00:12:28

kelima

4 2026-02-03 00:12:08

keempat

3 2026-02-03 00:11:41

ketiga

2 2026-02-03 00:11:29

kedua

1 2026-02-03 00:07:43

pertama

← Kembali ke Daftar Artikel