Rendra adalah seorang siswa kelas VIII SMP. Ia termasuk anak yang ramah dan suka bermain bersama teman-temannya. Namun, ada satu pelajaran yang selalu membuatnya merasa tertekan, yaitu matematika. Baginya, matematika hanyalah kumpulan angka, rumus, dan soal-soal yang sulit dipahami. Setiap kali guru matematika masuk kelas, Rendra sering menghela napas panjang. Dalam hatinya, ia bertanya-tanya mengapa harus belajar aljabar, persentase, dan bangun ruang serta apakah semua itu akan benar-benar dipakai dalam kehidupan nanti.
Nilai matematika Rendra tidak terlalu baik. Ia sering menghafal rumus tanpa benar-benar memahami maknanya. Setelah ulangan selesai, ia cepat melupakan semua yang sudah dipelajarinya. Suatu hari sepulang sekolah, Rendra membantu ibunya berjualan makanan kecil di depan rumah. Ibunya menjual gorengan dan es teh lalu meminta Rendra membantu menghitung uang pembeli. Seorang pembeli membeli lima gorengan seharga dua ribu rupiah per buah. Rendra menghitung jumlah yang harus dibayar dan kembalian yang harus diberikan. Saat menyerahkan kembalian, ia merasa sedikit bangga karena menyadari bahwa ia menggunakan perkalian dan pengurangan seperti yang dipelajari di sekolah.
Hari itu Rendra terus membantu ibunya menghitung jumlah gorengan yang terjual, mencatat uang yang masuk, dan menghitung sisa modal. Ibunya berkata bahwa jika tidak pandai berhitung, ia bisa salah memberi kembalian dan mengalami kerugian. Ucapan itu membuat Rendra terdiam dan mulai sadar bahwa matematika bukan hanya untuk ulangan, tetapi juga untuk kehidupan sehari-hari. Beberapa hari kemudian, di sekolah, guru memberikan tugas membuat kegiatan bazar kelas. Setiap kelompok harus menghitung modal, harga jual, dan keuntungan. Kelompok Rendra menjual minuman dengan modal tujuh puluh lima ribu rupiah dan harga jual tiga ribu rupiah per gelas. Ketika mereka menghitung hasil penjualan dan keuntungan, Rendra membantu teman-temannya dengan cepat dan tepat. Teman-temannya merasa terbantu dan memujinya karena pandai menghitung.
Saat itu Rendra merasa bahwa matematika membuatnya berguna bagi orang lain. Suatu malam, ia berbincang dengan ayahnya tentang cita-citanya menjadi seorang arsitek. Ayahnya menjelaskan bahwa pekerjaan arsitek sangat membutuhkan matematika untuk menghitung ukuran bangunan, luas dan volume ruangan, kekuatan bahan, serta perkiraan biaya pembangunan. Seorang arsitek juga harus mampu berpikir logis dan teliti agar bangunan yang dirancang aman dan nyaman digunakan. Rendra pun menyadari bahwa matematika sangat penting bagi masa depannya.
Sejak hari itu, Rendra mulai mengubah sikapnya terhadap matematika. Ia tidak lagi hanya menghafal rumus, tetapi mencoba memahami cara kerjanya. Saat belajar persentase, ia mengaitkannya dengan perhitungan diskon bahan bangunan. Saat belajar perbandingan, ia membayangkan mencampur semen, pasir, dan air dengan takaran yang tepat. Saat belajar bangun ruang, ia membayangkan menghitung ukuran kamar, jendela, dan atap rumah.
Nilai matematika Rendra perlahan meningkat. Namun yang lebih penting, cara berpikirnya juga berubah. Ia menjadi lebih teliti, lebih sabar, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi soal sulit. Suatu hari di kelas, guru bertanya mengapa siswa harus belajar matematika. Rendra mengangkat tangan dan menjawab bahwa matematika membantu dalam kehidupan sehari-hari, seperti menghitung uang, waktu, dan kebutuhan. Matematika juga penting untuk masa depan agar seseorang dapat meraih cita-cita, termasuk menjadi arsitek, dan tidak salah mengambil keputusan. Guru tersenyum bangga dan teman-temannya bertepuk tangan.
Sejak saat itu, Rendra tidak lagi menganggap matematika sebagai musuh. Ia menyadari bahwa matematika adalah alat untuk berpikir dan bertindak dengan lebih baik. Dalam hatinya, Rendra berkata bahwa ia belajar matematika bukan hanya untuk nilai, tetapi untuk kehidupannya sekarang dan masa depannya sebagai seorang arsitek.
Setelah membaca cerita di atas, jawablah pertanyaan berikut ini !
1. Mengapa Rendra pada awalnya tidak menyukai pelajaran matematika?
2. Pengalaman apa yang membuat Rendra mulai menyadari bahwa matematika berguna dalam kehidupan sehari-hari?
3. Bagaimana peran matematika saat Rendra dan kelompoknya mengadakan bazar kelas?
4. Mengapa cita-cita Rendra sebagai arsitek membutuhkan kemampuan matematika?
5. Perubahan sikap apa yang dialami Rendra terhadap matematika setelah memahami manfaatnya bagi kehidupan sekarang dan masa depan?
Komentar
a
a
awalnya saya juga tidak menyukai matematika, tetapi seiring berjalannya waktu saya belajar dan memahami bahwa matematika adalah keilmuan yang selalu dipakai dalam kehidupan sehari-hari, matematika juga cukup menyenangkan apabila kita benar-benar mempelajari dan memperhatikan detail kecil di dalam ilmunya :)