Matahari siang itu seolah tepat berada di atas ubun-ubun. Di SMP Pemuda Penerus Bangsa, udara terasa diam dan menyesakkan, seakan oksigen enggan bergerak karena kalah oleh hawa panas yang membakar kulit. Begitu bel istirahat melengking, ketenangan kelas 8G pecah. Siswa berhamburan keluar layaknya lebah yang sarangnya diganggu. Ada yang berburu es teh plastik untuk mendinginkan tenggorokan, ada yang menyepi di perpustakaan demi embusan angin kipas angin, dan sebagian lagi memilih berteduh di gazebo taman sekolah. Di salah satu gazebo, lima sahabat—Garuda, Aldi, Luna, Ria, dan Mila—duduk melingkar. Aroma bakwan goreng dan bumbu mi instan menguar di antara mereka. "Gila, hari ini panasnya nggak masuk akal," keluh Mila sambil menempelkan botol minuman dingin ke pipinya yang memerah. "Iya, aku sampai lemas begini," sahut Garuda pelan. Meski mengaku lemas, tangannya tetap lincah menyuapkan bakwan ke mulut, yang langsung disambut sorakan "huuuu" serempak dari teman-temannya.
Namun, suasana santai itu berubah tegang saat Ria berbisik, "Teman-teman, tadi di kantin aku dengar gosip. Katanya kelas 8H tadi kena ulangan mendadak di jam Bu Ayu." Wajah Aldi seketika pucat. "Aduh, serius? Aku kemarin nggak masuk sekolah karena flu. Belum paham materinya sama sekali!" Luna mencoba menenangkan dengan gaya santainya, "Tenang saja, Bu Ayu kan baik. Paling soalnya cuma seputar teori yang mudah-mudah." Mereka semua menghela napas panjang, mencoba mengusir kecemasan yang tiba-tiba datang. Namun bagi Garuda, kata-kata Ria terus bergema. Dalam hati ia bergumam, Kalau benar ada ulangan, habis sudah. Kepalaku masih kosong melompong.
Dua puluh menit berlalu begitu cepat. Bel masuk berbunyi, terdengar merdu namun bagi Garuda itu seperti lonceng kematian. Lorong-lorong sekolah yang tadinya riuh mendadak sepi saat para guru mulai memasuki kelas. Di kelas 8G, suasana yang biasanya berisik seperti pasar malam berubah menjadi hening dan tegang. Bu Ayu masuk dengan langkah tenang. Beliau berdiri di depan kelas, memandangi murid-muridnya satu per satu dengan senyum tipis yang sulit diartikan. Tanpa banyak basa-basi, beliau mengeluarkan setumpuk kertas dari mapnya. "Anak-anak, hari ini kita ulangan mendadak Pendidikan Pancasila," ujar Bu Ayu tenang. Seketika, kelas pecah oleh suara gemuruh protes. Namun, Bu Ayu hanya mengangkat tangan, meminta ketenangan. "Jangan panik. Ingat pelajaran minggu lalu. Saya beritahu satu rahasia: jawaban yang paling benar sebenarnya sudah ada di dalam kepala kalian," ucap beliau penuh misteri.
Saat lembar soal sampai di meja Garuda, kepalanya mendadak pening. Soal nomor satu langsung membuatnya buntu: Apa lambang sila ketiga dan apa maknanya dalam kehidupan? Garuda melirik ke arah Ratri di sebelahnya yang tampak menulis dengan sangat cepat. "Ratri, nomor satu apa?" bisiknya penuh harap. Ratri menoleh sedikit, lalu berbisik balik, "Ingat kata Bu Ayu, Da. Jawabannya ada di dalam kepalamu sendiri." Garuda menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit kelas. Ia mencoba menggali ingatan. Tiba-tiba, ia teringat cerita Bu Ayu minggu lalu tentang gotong royong warga desa membersihkan lapangan yang becek. Persatuan Indonesia! Pohon Beringin! batinnya girang. Ia mulai menulis dengan semangat.
Soal berikutnya meminta contoh pengamalan sila kelima, Keadilan Sosial. Garuda kembali termenung. Ia teringat kejadian dua hari lalu saat ia berulang tahun dan ibunya berpesan untuk membagi kue secara rata kepada teman-teman, bahkan ia menyisihkan potongan besar untuk Pak Satpam di depan sekolah. "Ternyata benar," gumamnya pelan. "Kuncinya memang ada di dalam kepala... tepatnya di bagian kenangan." Setelah ulangan selesai, Bu Ayu mengumpulkan kertas-kertas itu. Beliau kembali tersenyum. "Bagaimana? Ada yang sudah menemukan kunci jawabannya?"
Garuda mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Saya sudah ketemu kuncinya, Bu! Tapi maaf, kuncinya agak berdebu karena jarang saya bersihkan dengan belajar!" Sontak, seluruh kelas meledak dalam tawa. Ketegangan yang membara sejak siang tadi akhirnya mencair bersama tawa mereka, menyisakan pelajaran berharga bahwa nilai-nilai Pancasila ternyata bukan sekadar teks di buku, melainkan tindakan yang sudah mereka lakukan sehari-hari.
Jawablah pertanyaan di bawah ini di buku literasimu !
1. Mengapa suasana di kelas 8G mendadak menjadi tegang dan hening, padahal biasanya ramai seperti pasar malam?
2. Apa maksud dari pernyataan Bu Ayu bahwa "jawaban yang paling benar ada di dalam kepala kalian"?
3. Jelaskan bagaimana cara Garuda akhirnya bisa menjawab soal tentang lambang sila ketiga dan pengamalannya!
4. Apa maksud perkataan Garuda bahwa kuncinya "agak berdebu"?
5. Apa pesan moral yang kalian dapat melalui akhir cerita tersebut?
Komentar
yasalam