Lampu jalanan masih temaram saat mesin mobil tua itu terbatuk, lalu menderu pelan. Pukul 05.30 pagi. Arkan menyandarkan kepalanya di kaca jendela yang dingin, menatap aspal yang masih basah oleh embun. Di depannya, bentangan jalan sejauh 53 kilometer siap menelan waktu satu jam lebih hidupnya.
Bagi Arkan, perjalanan ini adalah rantai yang menyeretnya menjauh dari impian. Seharusnya ia berada di SMA favorit di pusat kota, bukan di dalam mobil tua yang pengap ini, mengikuti ibunya yang bertugas mengajar di sekolah pelosok.
"Lagu ini tentang ketabahan, Arkan. Saat kata-kata tidak sanggup bicara, nada yang menyampaikannya," ujar Ibu pelan sambil memutar knop radio. Musik klasik mengalun, mengisi ruang sempit di antara mereka. Entah dalam keadaan senang atau sedih, Ibu selalu memutar musik. Bagi Ibu, nada-nada itu adalah bensin tambahan untuk jiwanya. Namun bagi Arkan, musik itu hanya pengingat akan keheningan yang dipaksakan.
Arkan melirik ibunya yang fokus menatap jalan. Ada lingkaran hitam di bawah mata itu. Sebenarnya, Arkan tahu mengapa mereka harus menempuh "jalur gila" ini setiap hari alih-alih mengontrak rumah di dekat sekolah Ibu.
Di rumah, ada adik Arkan yang masih kelas 3 SD. Adiknya tidak mungkin ikut berpindah-pindah karena sekolahnya sudah stabil di kota, dan ia harus tetap bersama Nenek yang sudah sepuh. Ibu memilih untuk lelah di jalan demi memastikan adiknya tetap mendapatkan kasih sayang Nenek dan pendidikan yang baik, sementara Arkan, sebagai anak sulung, menjadi "pelindung" setia Ibu dalam perjalanan sunyi ini.
Sekitar lima belas menit perjalanan, rutinitas itu dimulai. Mobil mereka selalu tertahan di lampu merah perempatan besar. Di sana, di antara deru knalpot dan kepulan asap, seorang lelaki dengan kaki patah yang dibalut gips kusam selalu berdiri. Ia bertumpu pada tongkat kayu yang tampak rapuh, bergerak perlahan di antara barisan mobil. Setiap kali mereka berhenti, Ibu akan menurunkan kaca jendela dan mengulurkan selembar uang kertas.
"Terima kasih, Bu... semoga lancar rezekinya," ucap lelaki itu dengan suara serak. Sorot matanya lesu, seolah nyaris menyerah pada beban tubuhnya sendiri. Ibu selalu membalas dengan anggukan tulus sebelum lampu berubah hijau.
Di sekolah barunya, Arkan merasa seperti alien. Ia tidak mengerti dialek teman-temannya, dan ia merasa lingkungan itu terlalu sunyi. Puncaknya terjadi saat pelajaran Bahasa Indonesia. Pak Damar memberikan tugas: Mencipta Puisi dari Kehidupan di Sekitar.
Arkan menatap kertas putihnya dengan nanar. Apa yang harus ditulis? Debu jalanan? Mobil tua yang pengap? Atau minimarket tempat ia menunggu sendirian setiap sore seperti anak hilang?
"Apa yang harus ditulis dari tempat ini, Pak?" tanyanya ketus. "Hanya ada debu dan keheningan."
"Puisi tidak butuh tempat mewah, Arkan," jawab Pak Damar tenang. "Ia hanya butuh mata yang mau melihat dan hati yang mau mendengar."
Sorenya, seperti biasa, Arkan harus menunggu Ibu hingga pukul 15.00 di sebuah minimarket dekat sekolah, sendirian tanpa teman, tanpa percakapan. Ia merasa jenuh.
Hingga suatu pagi, rutinitas di lampu merah itu patah. Lelaki bertongkat itu tidak ada. Hal itu berlanjut hingga berminggu-minggu.
"Ke mana ya, Kak, lelaki yang di lampu merah itu?" tanya Ibu suatu pagi, suaranya terdengar cemas. "Sudah lama dia tidak ada. Akhir-akhir ini Ibu lihat kakinya memang bengkak sekali. Apa mungkin dia sakit?"
Arkan terdiam. Tiba-tiba, ia menyadari sesuatu. Lelaki itu, Ibunya, dan dirinya sendiri adalah pejuang di aspal yang sama. Ibunya berjuang demi Adik dan Nenek, lelaki itu berjuang demi sesuap nasi dengan kaki patah, dan Arkan... ia hanya sibuk mengutuki nasibnya sendiri.
Malam itu, Arkan mulai menulis. Ia menggabungkan irama musik di mobil, bayangan adiknya yang masih terlelap saat mereka berangkat, dan sosok lelaki yang hilang di lampu merah. Ia menggunakan teknik Citraan Auditif dan Visual untuk membangun puisinya.
MELODI JALANAN YANG PATAH
Lima puluh tiga kilometer adalah pita kaset tua,
Diputar Ibu demi adik yang masih bermimpi di rumah.
Di perempatan itu, doa pernah berdiri di atas tongkat kayu,
Sebelum lampu hijau mengubahnya menjadi rindu yang layu.
Kini perempatan itu hanya menyisakan aspal bisu,
Tak ada lagi suara serak yang mendoakan restu.
Aku belajar bahwa puisi bukan tentang kota yang megah,
Tapi tentang langkah yang tetap tegak meski kaki atau hati sedang patah.
Keesokan harinya, Arkan membacakan puisinya di depan kelas. Saat bait terakhir diucapkan, suasana menjadi sangat hening. Teman-temannya tidak lagi melihat Arkan sebagai "anak kota yang angkuh", tetapi sebagai seseorang yang mampu menangkap jiwa dan kesunyian jalanan yang mereka lalui setiap hari. Pak Damar tersenyum bangga, menyadari bahwa Arkan telah menemukan "suara"-nya sendiri.
Sore itu, rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Arkan duduk di teras minimarket, memandangi aspal yang perlahan basah dan berubah warna menjadi kelabu gelap. Ia tidak lagi merasa bosan atau jenuh. Di tangannya, buku catatan itu terbuka, siap menampung bait-bait baru tentang aroma tanah yang basah dan derit pintu minimarket yang terbuka-tutup. Ia kini menyadari, setiap tempat adalah puisi yang sedang menunggu untuk ditulis.
Tepat pukul 15.00, sorot lampu mobil tua ibunya membelah kabut tipis hujan. Mobil itu menepi dengan pelan. Di bawah rintikan air hujan yang semakin menderu, Ibu menurunkan kaca jendela mobilnya.
Tampak wajah Ibu yang lelah dari balik kaca yang basah. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas, tanda kurang tidur akibat harus bangun terlalu pagi setiap hari. Namun, saat tatapan mereka bertemu, sebuah senyum hangat merekah dari bibir itu. Senyum yang begitu tulus, senyum yang mampu melunturkan seluruh kelelahan perjalanan 53 kilometer yang mereka tempuh. Senyum yang diam-diam berkata, “Terima kasih sudah bertahan bersamaku hari ini.”
Arkan tertegun. Ia menyadari bahwa senyum itu adalah puisi terindah yang pernah ia lihat. Puisi tentang cinta seorang ibu yang tak terbatas, yang rela menempuh ratusan kilometer setiap hari demi anak-anaknya. Tanpa sadar, Arkan menyambut senyum itu dengan mata berkaca-kaca. Perasaannya campur aduk, ada rasa bersalah karena pernah mengeluh, rasa bangga pada ibunya, dan rasa syukur karena mereka masih memiliki satu sama lain.
Di bawah hujan yang semakin deras, Arkan berlari kecil menuju mobil tua itu. Ia tahu, di dalam sana, alunan musik klasik sedang menunggu mereka untuk memulai perjalanan pulang. Perjalanan yang tidak lagi ia benci, karena kini ia tahu, setiap kilometer adalah bait-bait cinta yang tak tertulis, yang akan terus ia kenang dalam puisi-puisinya.
Jawablah pertanyaan di buku literasimu!
1. Apa alasan utama yang membuat Arkan dan Ibunya harus menempuh perjalanan sejauh 53 kilometer setiap hari?
2. Bagaimana perubahan pandangan Arkan terhadap musik klasik yang diputar Ibunya di dalam mobil?
3. Siapakah sosok yang membuat Arkan tersadar bahwa ia selama ini hanya sibuk mengutuki nasibnya sendiri?
4. Teknik apa yang digunakan Arkan dalam menyusun puisinya, dan apa pesan utama dari puisi tersebut?
5. Apa yang disadari Arkan saat melihat wajah dan senyum Ibunya di tengah rintik hujan di akhir cerita?
Komentar
Belum ada komentar.