Pelangi Di Tanah Rantau

Penulis: Reni Catur Agustina, S.Pd | 25 May 2026 | Pengunjung: 594
Cover
Desa Harapan Baru bukan desa biasa. Di sana, rumah-rumah berjejer rapi dan dihuni oleh warga dari berbagai suku ada keluarga Batak, Jawa, Bugis, Dayak, dan Minangkabau. Mereka sudah hidup bersama sejak puluhan tahun lalu. Meskipun berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan membawa kebiasaan yang berbeda-beda, mereka semua memilih tinggal dan menjadikan desa itu sebagai rumah bersama.

Rina adalah siswi kelas tujuh keturunan Jawa. Ia selalu penasaran dengan tetangganya, Pak Manurung, yang setiap pagi menyanyikan lagu dalam bahasa Batak Toba sambil menyapu halaman. Suatu hari, Rina memberanikan diri untuk bertanya arti lagu itu. Pak Manurung tersenyum lebar lalu menjelaskan bahwa lagu tersebut adalah ungkapan syukur kepada Tuhan atas hari yang baru. "Caranya memang berbeda, Rina, tapi isinya sama dengan doa ibumu," katanya dengan ramah. Rina pulang dengan perasaan senang karena mendapat pemahaman baru yang bermakna.

Perbedaan paling terlihat saat musim panen tiba. Keluarga Jawa membuat tumpeng, keluarga Bugis menyiapkan sokko' yang gurih, sementara keluarga Minangkabau memasak rendang yang baunya harum sampai ke ujung jalan. Yang menarik, mereka tidak makan sendiri-sendiri. Meja panjang dipasang di lapangan desa, semua makanan dijajarkan, dan semua warga makan bersama. Tradisi ini disebut Pesta Panen Bersama dan sudah berlangsung selama dua generasi.

Namun hidup bersama tidak selalu mudah. Suatu hari, terjadi salah paham antara beberapa pemuda. Jadwal latihan gamelan ternyata bertabrakan dengan jadwal pengajian. Suasana mulai memanas. Lalu Pak RT, seorang bapak tua berdarah Dayak, mengajak semua pihak duduk melingkar bersama. "Di tempat kami, kalau ada masalah, kita duduk dan bicara baik-baik bukan berdiri dan berteriak," katanya dengan tenang. Malam itu, jadwal diatur ulang bersama-sama dan semua kegiatan bisa berjalan dengan lancar.

Pelajaran paling berharga datang saat sekolah mengadakan Pameran Budaya Nusantara. Rina dan teman-temannya dari berbagai suku bekerja sama membuat stan yang memperkenalkan budaya-budaya yang ada di desa mereka. Mereka sadar bahwa perbedaan bukan penghalang, tapi justru kekayaan. Para pengunjung takjub melihat anak-anak itu hafal nama tarian suku lain, bisa menyapa dalam beberapa bahasa daerah, dan dengan bangga menceritakan budaya tetangga mereka seperti budaya mereka sendiri.

Warga Desa Harapan Baru telah membuktikan satu hal penting : perbedaan budaya tidak perlu dihapus atau disamakan. Justru karena berbeda, hidup menjadi lebih berwarna seperti pelangi yang indah karena memiliki banyak warna. Yang paling penting adalah mau saling menghormati, mau mendengarkan, dan mau hidup rukun bersama. Jika itu ada, perbedaan tidak akan memecah belah, melainkan justru memperkuat. Indonesia adalah rumah bagi ratusan suku dan bahasa dan kita semua, dari mana pun asalnya, adalah bagian dari keluarga besar itu.

Jawablah pertanyaan di bawah ini di buku literasimu!
1. Suku apa saja yang tinggal di Desa Harapan Baru?
2. Apa arti lagu yang dinyanyikan Pak Manurung setiap pagi, dan apa yang Rina pelajari setelah mengetahui artinya?
3. Bagaimana warga Desa Harapan Baru merayakan musim panen bersama-sama?
4. Bagaimana cara Pak RT menyelesaikan masalah antara pemuda yang berselisih soal jadwal latihan gamelan dan pengajian?
5. Apa pelajaran penting yang ingin disampaikan cerita ini tentang keberagaman budaya di Indonesia?

Komentar

Rahasia 2026-05-26 00:37:59

Sangat bagus dan saya suka tentang budaya/suku

Nizam Adi.NH 2026-05-26 00:24:37

Cerita yang sangat mempererat solidoritas antar suku/budaya.

← Kembali ke Daftar Artikel